PEOPLE CAN BE VERY SMART, BUT AS LONG AS HE DID NOT WRITE, HE WILL BE NO ONE IN HISTORY....
Showing posts with label Communication Science. Show all posts
Showing posts with label Communication Science. Show all posts

Saturday, May 3, 2014

Live Update! semoga berkenan

Sedikit narsis,

masih merasa hidup ini kejam untuk seorang Giovanno Septwenvi Regrasio Marwildo Pattiasina. gimana gak? kena lovestruck all over again tiap kali liat si baju kuning 2 setengah tahun yang lalu. haha. TRAGIS!

sudah mulai punya pekerjaan sebagai freelance di sebuah program TV lokal. Juga jadi asisten dosen nih (bagiin ilmunya udah mulai terstruktur ke adek-adek).

masih belum ketemu publisher untuk si Willbur :(

sudah punya laptop baru, yang lama rusak kena lovestruck juga kayaknya.

sudah BELAJAR membangun relasi, kontrol diri, menyelesaikan masalah, prioritas, MAGANG yang ternyata gak menyeramkan kok, bikin film (judulnya From What We Give btw!).

sudah bisa ngasi perpuluhan dari hasil kerja sendiri (praise only for Him)

masih jadi anak bungsu (secara natur dan sikap, oh yeaaah)

sudah ganti hp, gara-gara hp lama ketinggalan di antar jemput

sudah bisa produksi program TV sendiri!!! dan "layak tayang" katanya dosen yang penilaiannya jelas top markotop (y)

sudah sadar bahwa menulis itu berlatih, oleh sebab itu kembali mengaktifkan blog ini.

semoga berkenan!

Tuesday, June 12, 2012

Social Learning - Identification. Who's Yours?

Belakangan ini, saya seringkali melihat acara-acara TV yang dulu pernah saya lihat di ketika masih berada di bangku SMP. Dari situ saya menemukan fakta bahwa ada seorang tokoh di salah satu acara TV yang mempunyai sifat dan karakter persis seperti saya. Setelah memikirkan hal itu, saya menyadari bahwa sejak dulu hingga sekarang, karakter tokoh tersebut telah saya identifikasikan menjadi karakter saya. Terlalu banyak kesamaan untuk mengatakan bahwa hal itu bukan Identifikasi.
Identifikasi adalah proses psikologis dimana seseorang mengambil karakteristik dari orang lain untuk dijadikan sebagai karakternya. Proses identifikasi berlangsung lama dan membutuhkan model untuk diidentifikasikan. Proses identifikasi merupakan bagian dari Social Learning. Disadari atau tidak, kita selaku manusia sering melakukan identifikasi diri terhadap orang lain dan itu biasanya terjadi di saat  masih di bawah umur.
Setelah melakukan perenungan panjang (haha..) saya melihat bahwa banyak sifat yang saya miliki (baik itu yang positif maupun negatif) juga dimiliki oleh tokoh yang ada di salah satu acara TV tersebut. Setelah dipikir-pikir mungkin juga karena saya sangat menyukai tokoh itu sehingga secara tidak sadar mengambil karakternya sebagai karater pribadi saya.
Mungkin terdengar sedikit aneh, tapi hal itulah yang saya alami dan benar-benar terjadi. Mungkin anda juga pernah melakukan itu terhadap tokoh yang ada di acara TV ketika anda masih di sekolah dasar atau dengan seorang penyanyi yang anda idolakan. Siapakah identifikasi anda itu?

Tuesday, May 29, 2012

“INTEGRASI BANGSA, KONSTRUKSI DI TENGAH PERBEDAAN”

Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu....

Integrasi adalah keaadaan dimana masyarakat bersatu dengan kecenderungan saling terikat satu sama lain. Integrasi masyarakat biasanya terjadi karena ada faktor persamaan diantara unsur-unsur masyarakat. Di Indonesia, masalah Integrasi merupakan sebuah masalah yang seringkali dikumandangkan dimana banyak daerah yang menuntut disintegrasi secara politik dari Republik Indonesia. Sebut saja Gerakan Papua Merdeka, Republik Maluku Selatan dan Gerakan Aceh Merdeka. Gerakan-gerakan tersebut merupakan contoh ekstrim dari ketiadaan integrasi diantara sesama bangsa Indonesia.
Selain itu, masalah Integrasi lain yang terlihat dalam skala kecil adalah bahwa tidak semua suku maupun etnis bisa terasimilasi satu sama lain. Hal ini terlihat dari sedikitnya perkawinan campuran antara etnis, misalnya saja etnis tionghoa dan orang jawa. Hal ini karena ada nilai-nilai khas yang dijunjung oleh suku atau etnis tertentu yang menciptakan sekat antara unsur-unsur yang demikian di negara ini. Stereotip dan generalisasi juga muncul sebagai akibat interaksi yang salah antar suku maupun etnis.
Disintegrasi yang seperti ini tentunya merupakan hal yang menjadi ancaman terhadap kesatuan dan persatuan Negara Republik Indonesia dan tentu saja bertentangan dengan Bhinneka Tunggal Ika. Untuk itu kita perlu belajar membangun integrasi bangsa. Salah satu cara untuk membentuk integrasi adalah dengan melihat keberadaan pihak di luar masyarakat yang hendak diintegrasikan.
Sebagai contoh, sikap masyarakat Indonesia yang sama-sama mendukung Timnas merah putih ketika tim sepakbola tersebut bertanding melawan tim negara lain, adalah bentuk dari integrasi yang tercipta karena ada pihak luar yang berada di luar Indonesia yang dianggap sebagai pihak lawan.
Sejarah mencatat pidato ‘Ganyang Malaysia’ yang dituturkan oleh Presiden Soekarno juga menciptakan Integrasi nasional dimana seluruh lapisan masyarakat bersikap satu suara untuk melawan Malaysia. Meskipun tidak disarankan agar membangun integrasi dengan berperang tetapi konsep seperti ini dapat diterapkan dengan cara yang lebih diplomatis. Misalnya saja membangun integrasi terkait kecintaan terhadap pariwisata bangsa. Indonesia mempunyai banyak objek pariwisata yang eksotis dan mampu mengundang wisatawan asing. Dengan menonjolkan pariwisata seluruh Indonesia dengan lebih baik lagi, sebagai sesama tuan rumah, kita akan lebih terintegrasi apabila nantinya pariwisata tanah air telah mencapai tingkatan yang maju.
Selain pariwisata, perfilman indonesia juga dapat membangun integrasi. Kesuksesan film The Raid beberapa minggu lalu yang mencapai sukses di pasar internasional telah membuka peluang bagi anak-anak bangsa untuk berkarya lebih lagi di bidang perfilman. Jika sesama bangsa indonesia mau memberi kontribusi lebih terhadap karya-karya yang seperti ini, bukan tidak mungkin  negara kita mempunyai sesuatu untuk ditunjukan kepada dunia. Sekali lagi, jika hal itu terjadi, integrasi bangsa kita akan semakin erat.
Yang menjadi penghalang dan alasan tidak terciptanya integrasi hanyalah satu hal, yaitu perbedaan. Perbedaan yang muncul dan beragam dari segi kuantitas memang dapat ditemukan di Indonesia. Perbedaan tersebut hanya bisa disikapi secara positif apabila setiap orang dengan pemikiran yang terbuka mau menerima orang lain dengan agama, budaya, ras, maupun segala sesuatu yang ia bawa dalam latar belakangnya.
Sebagai seseorang yang merantau karena alasan akademik, saya pribadi belajar tentang bagaimana mengolah perbedaan menjadi sesuatu yang positif dan tidak menjadikan itu sebagai kacamata negatif dalam menilai orang lain.
Kita tentu paham betul bahwa setiap manusia adalah makhluk sosial. Di sisi lain kita juga harus memahami bahwa setiap orang (bahkan saudara kembar sekalipun) dapat memiliki perbedaan kepribadian yang signifikan. Dengan merujuk pada hal itu, kita harus sadar bahwa mustahil jika kita menginginkan keseragaman yang utuh dalam masyarakat.
Kita hidup dalam masyarakat yang unsur-unsurnya berbeda satu sama lain. Untuk itu kita perlu menerima perbedaan orang lain dan menciptakan harmoni diantara pembeda-pembeda tersebut. Dengan memahami dan melakukan hal itu, percayalah bahwa suatu saat, bangsa Indonesia akan terintegrasi dan Bhineka Tunggal Ika benar-benar hidup di pangkuan ibu pertiwi.

Wednesday, April 18, 2012

Anak Fakultas Ilmu Komunikasi itu.....

1. Punya jiwa sanguinis, meskipun ada yang hanya 0,00001 % sanguinisnya. Kan gak lucu ada anak fikom yang melakolis plegmatis yang kerjanya merenungi nasib seperti dunia mau kiamat.
2. Kalo berkumpul trus ngebahas sesuatu, suaranya bisa menggetarkan dunia. Belom lagi kalau ketawa.  Seakan-akan dunia milik mereka. Trus pembahasannya panjaaaaaaaaaaang. Gak ada titik koma. Kalaupun ada, trus dienter, tabulasi, mulai deh paragraf baru..
3. Pelupa. Kalo deadline tugas pasti lupa, tapi kalo jam tayang drama korea atau nomor telepon XXI terdekat pasti ingat... ckckckck...
4. Cewek-ceweknya sangat memperhatikan busana. Yaiya dong, busana bagian dari komunikasi coyy, tapi kalo lagi niat, ckckckckckck.... syahrini ajah kalah...
5. Penakut. Sama hantu pasti anti. Kalo yang akut, tamu datang di kosan ajah bisa sampe teriak-teriak. Padahal loh, manusia. Trus doyan film horor, dji sam tsu Paranormal Activity pasti pernah ditonton. Ujung-ujungnya, minta ditemenin ke kamar mandi.
6. Punya kecenderungan Cheerleader Complex. Maunya yang fun mulu. Gak mau under pressure... Alasan jitu : orang komunikasi dibawah tekanan bisa jadi orang gagap... (kaek aziz dong)
7. Internet jadi ajang eksis (ngatain diri sendiri nii yee)
8. Kalo cowok, TPnya (tebar pesona) frontal dan bermakna, kalo cewek TPnya dengan pura-pura kalem, masang topeng seakan-akan jadi cewek paling pendiaaaaaaaaaam.
9. Update nomor satu. Omongan dosen nomor dua. Twitter, FB, Tumblr, semua menjadi prioritas saat masuk ke tempat dan suasana baru. Apalagi Foursquare, bergerak satu inchi pun disebut Check-In.... ckckckckckck...
10. Trend-setter itu hukumnya wajib. Anak fikom memang kreatif. Banyak yang dibuat biar bisa jadi Trendsetter. Kadang saking kreatifnya, rambut dipotong model gorden... ckckckckckckck...

Saturday, April 14, 2012

Komunikasi berorientasi Komunikan - Melihat. Mengolah. dan Mengintepretasi

Bicara tentang komunikasi, banyak sekali hal yang bisa saya bahas sebagai seorang mahasiswa ilmu komunikasi.
Yang ingin saya soroti kali ini adalah bagaimana komunikasi berorientasi pada komunikan (orang yang menerima pesan; berbeda dengan komunikator yang mengirim pesan) dan setiap makna komunikasi bergantung dari pemahaman pribadi dari seorang komunikan tersebut.
Sebagai seorang yang mempelajari banyak sekali hal-hal dalam komunikasi, saya secara tidak sadar mengembangkan kemampuan saya untuk membaca/menganalisis orang lain secara keseluruhan dari saat pertama berinteraksi. Bagi saya kemampuan seperti itu cukup berguna namun juga membuat saya menjadi terlalu banyak berpikir.
Misalnya saja baru-baru ini saya bertemu dengan orang yang sebelum ini pencitraan dirinya bisa saja disebut perfect di pemahaman saya. Dalam banyak sekali aspek, orang ini bisa disebut demikian. Tetapi yang saya baca ketika pertama kali bertemu dengan orang tersebut secara langsung adalah bahwa dibalik semua kesempurnaan yang dicitrakan orang lain kepada saya, ada ratusan cacat yang entah tidak dilihat orang lain atau tidak digubris oleh orang lain.
Dengan kemampuan saya sebagai orang komunikasi, Intepretasi saya terkait orang itu adalah sesuatu yang membuat saya menyadari bahwa manusia memang memiliki kemampuan mengembangkan diri ke tahap dimana dia dapat memahami orang secara keseluruhan dari fakta-fakta yang acak. Biar bagaimanapun, komunikasi akan berorientasi komunikan, sudah seharusnya pesan dalam bentuk apapun, disampaikan agar komunikan dapat mengintepretasikannya sesuai dengan apa yang diinginkan komunikator. Bukannya menjadi kurang lengkap karena ketiadaan atribusi tertentu....

Satu kalimat terakhir :
be wise if you look into things, it can be right or wrong, depends on your point of view... ^_^

Wednesday, February 29, 2012

Tanya tentang Konglomerasi Media.

Hari ini, diselenggarakan Workshop Journalism di Universitas Kristen Petra. Workshop ini diselenggarakan oleh TVOne dalam rangkaian ulangtahun TVOne yang keempat.
Dalam workshop yang dimulai sejak pukul 09.00 WIB itu, Grace Natalie dan Alfito Deannova yang adalah wajah-wajah TVOne dalam tahun-tahun terakhir ini hadir dan menjadi pembicara. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pemberitaan TVOne seringkali menunjukan kompresi terhadap salah satu partai politik (dengan didasarkan pada pemilik TVOne yang adalah ketua umum partai Golkar).
Saat workshop baru dimulai, beberapa mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi tahun pertama mulai saling bertukar pendapat tentang apakah perlu pertanyaan tentang Konglomerasi Media disampaikan kepada para pembicara terkait pendapat mereka mengenai hal itu di Indonesia. Saya dan salah satu teman sempat ragu untuk bertanya demikian sebab kami berasumsi bahwa pertanyaan itu akan memberi kesan yang salah terhadap tamu kami.
Dengan sedikit dorongan, saya akhirnya menjadi penanya dan pertanyaan saya itu diterima langsung oleh Grace Natalie dalam sesi tanya jawab. Alfito Deannova akhirnya menjadi orang yang menjawab pertanyaan saya tersebut karena disini beliau lebih menjadi "orang" perusahaan ketimbang Grace Natalie.
Suatu hal yang membuat saya salut adalah bahwa para pekera media dari TVOne sangat sportif. Mereka (meskipun tidak dengan gamblang) mengakui bahwa Indonesia memang dipenuhi dengan praktek-praktek monopoly sudut pandang media yang diakibatkan adanya Konglomerasi Media. Bahkan jawaban dari Alfito Deannova yang mengatakan bahwa Konglomerasi Media dipakai oleh partai politik membuat saya yakin bahwa para pekerja TVOne pun mungkin tidak menyukai praktek seperti itu (terutama yang terjadi di institusi tempat mereka bekerja).
Setiap pekerja media tentunya memiliki semangat untuk menjadikan media yang mereka kerjakan, dapat menyediakan sesuatu yang berguna bagi khalayak. Tetapi Konglomerasi Media muncul karena untuk mampu membuat sebuah media (dalam hal ini TV) bertahan, dibutuhkan kemandirian finansial yang luar biasa baik. Di indonesia, hanya beberapa orang saja (sudah cukup jelas, siapa saja mereka) yang mampu membiayai semua kebutuhan media dan itu berarti mereka akan punya suatu hak untuk mengatur media yang menjadi milik mereka (yang mana hal itu jelas sangat tidak diperkenankan).
Dalam jawabannya, Alfito sempat menginformasikan bahwa Konglomerasi Media sendiri sedang digugat ke Mahkamah Konstitusi dan itu berarti masih ada harapan untuk media-media tanah air terlepas dari belenggu Konglomerasi Media.
Soon or later, lets see.. and pray for the best !! ^^

Sunday, December 18, 2011

Apakah ADVERTORIAL boleh "bertengger" Dalam Jurnalisme yang baik?

Journalism (from issue.cc)
Judul diatas adalah sebuah pertanyaan kecil yang ditanyakan dalam UAS Dasar Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi UKP. Pertanyaan tersebut tentunya ditujukan untuk melatih mahasiswa berpikir kritis tentang bagaimana seharusnya jurnalisme yang baik (terutama di negara seperti Indonesia yang tengah berkembang dengan dukungan pers). Untuk menjawab pertanyaan diatas, saya akan mencoba bersikap non-analitis dan memberikan pandangan saya sebagai mahasiswa semester pertama jurusan Ilmu Komunikasi.
Jika menilai dari banyak aspek, kita akan diperhadapkan oleh kebimbangan tentang keberadaan Advertorial dalam dunia jurnalisme. Menurut  saya, dua sisi yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :
Pertama, dalam kaidahnya sebagai tempat masyarakat mendapatkan informasi, jurnalisme tentu memiliki sesuatu yang disebut "sumber hidup". Janganlah kita bersikap hipokrit dengan mengatakan bahwa koran, majalah, tabloid dan semua bentuk jurnalisme lainnya dapat berdiri teguh tanpa uang. Jurnalisme, apapun bentuknya, membutuhkan dana untuk kelangsungan hidupnya. Nah, untuk tetap bertahan, jurnalisme membutuhkan pemasukan yang  berasal dari Advertorial di dalamnya.
Kedua
, Advertorial selain menyampaikan sesuatu tentang produk yang mengundang masyarakat bersifat konsumtif, Advertorial sebenarnya memiliki fungsi informatif yang berguna bagi khalayak. Contoh sederhananya adalah saat Advertorial suatu koran menuliskan tentang obat-obatan tradisional untuk penyakit tertentu. Informasi seperti itu merupakan informasi yang dapat membantu kehidupan masyarakat. Begitu pula dengan informasi pada Advertorial terkait dengan sandang, pangan dan papan yang kurang lebih, dibutuhkan oleh masyarakat.
Dengan melihat kedua poin itu, saya kira Advertorial diperbolehkan untuk menjadi bagian dalam jurnalisme yang baik. Hanya saja, dalam penulisannya, Advertorial dituntut untuk menggunakan bahasa yang benar-benar mendefinisikan kelebihan atau kekurangan suatu produk tanpa menambahi atau menguranginya. Dengan begitu, Advertorial dapat menjadi elemen yang mendukung jurnalisme sebagai pilar keempat dalam pembangunan di masyarakat.

^_^

Monday, December 5, 2011

Pengantar Ilmu Komunikasi : Analisa Komunikasi Film Barefoot Dream

Long timer noo see my dearest reader...
Tugas akhir killing me softly, thanks God aku masih hidup sampai malam ini *grin

Tugas akhir Pengantar Ilmu Komunikasi tentang film A BAREFOOT DREAM, read and rate it :)


ANALISIS KOMUNIKASI FILM A BAREFOOT DREAM

1.    Fungsi-Fungsi Komunikasi :
Komunikasi Sosial – Bertujuan membangun konsep diri, sebagai aktualisasi diri, kelangsungan hidup, memupuk hubungan, serta memperoleh kebahagiaan. Disini terlihat bahwa komunikasi sosial adalah komunikasi paling umum yang digunakan sehari-hari. Dalam Film ini, komunikasi sosial juga dipraktikan saat Kim Won-Kang mengajarkan sepakbola. Saat ia mengatakan kata ‘Bagus’ kepada para muridnya, secara tidak langsung ia telah membantu membangun konsep diri mereka bahwa mereka bagus dalam bermain sepak bola.
Komunikasi Ritual – Merupakan komunikasi berupa perilaku simbolik, seperti dalam upacara-upacara keagamaan. Komunikasi Ritual dalam film ini contohnya terlihat pada menit ke 23:09, dimana saat itu Tua dan adiknya mengikuti ibadah di gereja katolik.
Komunikasi Instrumental – Fungsi ini digunakan untuk menginformasikan, mengajar, mendorong, mengubah sikap dan keyakinan dalam hal ini sifatnya adalah persuasif. Saat Kim Won-Kang melatih sepak bola. Itu salah satu bentuk komunikasi Instrumental yang ia gunakan.
Komunikasi Ekspresif – Merupakan bentuk ekspresi dari perasaan-perasaan sesorang. Dalam film ini misalnya, saat anak-anak pertama kali diberi sepatu bola ‘dengan cicilan’ mereka mampu mencetak gol dalam pertandingan pertama di menit ke 19 dan menari untuk merayakannnya. Itu adalah salah satu bentuk komunikasi ekspresif yang mereka lakukan untuk mengungkapkan perasaan mereka. Komunikasi ekspresif juga terlihat saat kakaknya Ramos marah karena Ramos mencuri stereo, dia marah pada Ramos di kantor polisi dan mendorong sambil berbicara dengan suara yang keras.
2.    Prinsip-Prinsip Komunikasi :
Komunikasi adalah proses simbolik – lambang yang digunakan dalam film jelas cukup beragam. Lihat saja dari segi bahasa verbalnya. Ada bahasa Indonesia, bahasa Korea, bahasa Inggris, bahasa Tetun, dan bahasa Portugis. Dua yang terakhir merupakan bahasa resmi di Timor Leste. Bahasa-bahasa tersebut merupakan simbol karena pada dasarnya, kata tidak memiliki arti, hanya saja arti dari sebuah kata ditentukan dengan kesepakatan.
Setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi – yang paling ditonjolkan dari prinsip ini adalah bahwa sikap apapun, termasuk DIAM, juga dapat menjadi suatu bentuk komunikasi, apabila ada orang yang mempersepsi arti dari diam tersebut. Di menit ke 12, saat Kim selesai check out, dia keluar dari hotel dan Tuan Park datang. Tanpa Kim berbicara, Tuan Park dapat menyimpulkan bahwa Kim hendak ke bandara. Sikap diam dan non-verbal (pakaian, barang yang dibawa) mengkomunikasikan banyak hal kepada Tuan Park sehingga ia dapat menarik kesimpulan.
Komunikasi mempunyai dimensi isi dan dimensi hubungan – Isi adalah apa yang disampaikan (terkait pesan verbal) dan hubungan adalah bagaimana cara isi disampaikan (terkait dengan non-verbal). Saat Kim mengatakan pada anak-anak bahwa mereka boleh membayar harga sepatu kapan saja, non-verbalnya menunjukan bahwa ia sedih dan kecewa. Ini menunjukan bahwa dimensi isi dan  dimensi hubungan Kim bertolak-belakang.
Komunikasi berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan – Ada komunikasi yang disadari dan direncanakan dan ada pula komunikasi yang tidak disadari ataupun direncanakan. Komunikasi yang direncanakan terlihat melalui banyak dialog yang terjadi dalam film ini sementara komunikasi yang tidak direncanakan terlihat di menit 132 saat Tuan Park membawa surat sponsor dari Basic House, Kim menangis sehingga Josephine yang menerima pesan tidak sengaja itu, kemudian bertanya pada Kim “mengapa anda menangis?”.
Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu – Hal ini berarti jika ruang dan waktu berbeda, makna pesan bisa juga berbeda. Di menit 48, saat Tuan Park datang ke rumah Kim di tengah malam, ia mengetuk pintu. Kedatangannya tentu akan memberi makna yang berbeda jika dibandingkan dilakukan di siang hari. Kedatangan seseorang ke rumah orang lain serta ketukan di pintu pada malam hari biasanya menunjukan sesuatu yang penting dan darurat.
Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi – Dalam berkomunikasi, seseorang tentu mempertimbangkan efek yang akan muncul dari komunikasi yang ia lakukan. Hal ini biasanya merujuk pada nilai-nilai tata krama. Dalam film ini, saat Kim mengunjungi rumah Ramos untuk merekrutnya, ia mengatakan Permisi (sesuai subtitle) meskipun sebenarnya yang ia katakan adalah “ Ada orang?”. Kebiasaan untuk menyapa sebelum memasuki rumah berdasar pada prediksi tentang respon baik yang akan diterima jika hal itu dilakukan.
Komunikasi bersifat sistemik – Dalam komunikasi, pihak-pihak yang melakukannnya memiliki sistem Internal dan Eksternal. Internal seperti kerangka rujukan, bidang pengalaman, kognitif, pola pikir, keadaan internal serta sikap. Sementara eksternalnya adalah lingkungan tempat kegiatan komunikasi terjadi. Kegaduhan, cahaya, kata-kata yang dipilih, penataan, temperatur dan lain-lain. Disini, sistem Internal seperti yang dimiliki Montavio dan Ramos adalah bahwa kerangka rujukan mereka tentang perang saudara sangat kuat sehingga pola pikir mereka juga terbentuk tentang hal demikian. Sistem Eksternal di film ini contohnya adalah lingkungan fisik di Timor Leste yang berdebu saat panas dan berlumpur saat hujan.
Semakin mirip latar belakang Sosial-Budaya, semakin efektiflah komunikasi – Disini memperlihatkan bahwa kesamaan sosial-budaya membantu orang-orang yang berkomunikasi agar apa yang ingin mereka sampaikan dapat diterima sesuai dengan apa yang diinginkan. Misalnya dalam film ini, saat orang korea bertemu dengan orang korea lain dan berkomunikasi tentu komunikasinya akan lebih efektif dibandingkan saat orang korea bertemu dengan orang timor leste dan berkomunikasi.
Komunikasi bersifat non-sekuensial – Komunikasi yang terjadi, sebenarnya tidak menunjukan kapan pesan disampaikan dan kapan ada umpan balik yang disampaikan. Karena keduanya terjadi dalam waktu yang cepat dan saling bergantian (dengan memperhitungkan non-verbal juga, dan hanya verbal). Di film ini, contoh sifat non-sekuensial terjadi saat ada perdebatan antara Kim dan kakak Ramos di kantor polisi. Umpan balik serta pesan tak dapat dibedakan kapan waktunya sebab perdebatan dilakukan dengan mempergunakan verbal maupun non-verbal.
Komunikasi bersifat prosesual, dinamis, dan transaksional – Komunikasi yang terjadi merupakan proses berkesinambungan selama komunikasi tersebut merujuk pada pengalaman masa lalu atau masih akan dipergunakan untuk rujukan di masa yang kan datang. Kalimat Tuan Park kepada James, “pergi kau! penipu!” merupakan suatu proses berkesinambungan. Karen Tuan Park tentu merujuk pada:
1. James pernah melakukan penipuan di masa lalu.
2. Kata Penipu yang juga tidak diketahui kapan awalnya kata tersebut dibuat.
Kemudian kalimat tersebut tentunya akan membuat Kim tahu bahwa James adalah penipu sehingga di masa yang akan datang, Kim akan merujuk pada kata-kata Tuan Park saat bertemu lagi dengan James.
Komunikasi bersifat Irreversible – Kita tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi tetapi kita dapat menambahkan suatu perlakuan lain untuk menciptakan efek yang baru. Misalnya dalam film ini, Kim telah memilih Montavio yang kepalanya terluka untuk tidak bermain di babak kedua, tetapi kemudian dia berubah pikiran. Meskipun dia berubah pikiran tetapi tidak mengubah kenyataan bahwa sebelumnya dia tidak memasukan Montavio ke tim untuk babak keduanya.
Komunikasi bukan Panasea untuk menyelesaikan masalah – Selain komunikasi, dibutuhkan juga suatu tindakan untuk menyelesaikan masalah. Saat Ramos mencuri stereo mobil, kakaknya meminta maaf pada pemilik mobil yang rusak. Selain itu, kakaknya juga berkata bahwa dia akan bekerja untuk menggantikan kerusakan pada akhirnya Kim yang membayar kerusakan dengan uangnya. Tindakan tersebut merupakan tindakan penyelesaian masalah.
3.    Model-model komunikasi yang ada dalam film “A Barefoot Dream” yaitu :
Model Lasswell, sebab di dalam film Kim cenderung mengajar dengan mengirimkan pesan-pesan satu arah/ linear kepada seperti yang dikemukakan Lasswell. Jarang ada umpan balik berarti yang ditunjukan oleh Tim yang ia latih.
4.    Contoh Proses Persepsi :
a.     Saat Kim mendatangi kakak Ramos di pasar, Kim menjelaskan tentang ia yang bukan hanya menjual sepatu, tapi juga mengajari mereka sepak bola. Kakak Ramos mempersepsi perkataan Kim dan menyimpulkannya dengan kalimat “Jadi kau bukan hanya menjual sepatu, tapi kau juga ingin memajukan mereka?”
b.     Di menit ke 50, terjadi keributan tetapi Kim mendengar suara Tuan Shin yang berteriak minta tolong. Ia menyeleksi suara minta tolong dan mengorganisasikannya sebagai bahasa asalnya dan mempersepsinya.
Kedua Persepsi diatas adalah persepsi sosial yang dialami oleh tokoh dalam film. Persepsi sosial adalah proses menangkap arti dari objek-objek sosial dan kejadian yang kita alami dalam lingkungan kita. Dalam persepsi sosial ada beberapa faktor yang mepengaruhi, seperti pengalaman dan seleksi orang yang mempersepsi. Dalam contoh diatas, pengalaman dan seleksi mempengaruhi persepsi tokoh.

5.    Klasifikasi Non-Verbal
Bahasa Tubuh – Dalam film ini, banyak sekali bahasa tubuh yang digunakan. Salah satu contohnya adalah apada menit ke 11 saat Tuan Park menyapa Kim. Bahasa Tubuh Kim menyangkut posisi berdiri dan tatapan mata, serta ekspresi wajahnya menunjukan keenagganan untuk balik menyapa Tuan Park.
Sentuhan – Sentuhan yang dimaksud dapat berupa pukulan, cubitan, pelukan, ciuman dsb. Ramos dipukul oleh kakaknya di kantor polisi. Itu merupakan bentuk sentuhan yang ada di dalam film ini.
Parabahasa – Parabahasa terkait suara adalah bagaimana suatu kalimat atau kata disampaikan. Volume, intonasi, kejelasan suara merupakan parabahasa. Misalnya, perdebatan antara kakak Ramos dan Kim di kantor polisi melibatkan nada suara tinggi, kejelasan suara juga kurang sebab keduanya berteriak, volume yang digunakan dan intonasi juga tinggi.
Penampilan Fisik – Salah satu bagian dari penampilan fisik adalah busanan. Dibandingkan saat di Timor Leste, Tim asuhan Kim menggunakan lengan panjang atau jaket sebab udara di Jepang lebih dingin dibanding dengan di Timor Leste. Selain itu, untuk menemui Menteri, Kim juga mengenakan jas yang berbeda dengan kebiasaannya.
Bau-bauan – Bau masakan yang dimasak Kim menjadi suatu bentuk komunikasi kepada Tuan Kim dan Tuan Dojo.
Orientasi Ruang dan Jarak Pribadi – Saat kakak Ramos bertemu dengan Kim untuk tantangan kedua, Kim mendekat ke arah kakak Ramos dan meniup telinganya. Hal itu diklasifikasikan sebagai Kim yang memasuki ruang pribadi kakaknya Ramos.
Konsep Waktu – Janji tanding antara Kim dan kakak Ramos merupakan suatu konsep waktu. Kim meminta waktu untuk melatih Timnya sebelum pertandingan diadakan.
Diam – Seperti dalam prinsip komunikasi nomor 2, perilaku diam pun mengisyaratkan sesuatu. Sikap Kim yang diam saat dijemput di depan hotel setelah check-out merupakan bentuk komunikasi non-verbal.
Warna – Jika membicarkan warna, yang paling menonjol dalam film ini adalah tentang warna kulit. Tanpa bermaksud rasis, warna kulit dalam film ini tentu mengkomunikasikan etnis dari tokohnya. Misalnya Kim yang kulit kuning adalah orang korea dan Ramos yang kulitnya lebih gelap menunjukan bahwa ia orang Timor.
Artefak – Merupakan semua benda yang dihasilkan oleh kecerdasan manusia. Sepatu sepak bola, radio, bahkan mobil, semuanya merupakan artefak. Dalam film ini, sepatu bola yang dipakai anak-anak melambangkan kesadaran meminimalkan resiko cedera karena tidak bersepatu.
6.    Komunikasi Verbal :
Keterbatasan Bahasa – Saat Kim pertama kali mendatangi kakak Ramos di pasar, karena keterbatasan bahasa, ia menjelaskan dengan gerakan-gerakan non-verbal tentang bahayanya bermain sepak bola tanpa sepatu.
Kerumitan Makna Kata – Poin ini menjelaskan bahwa setiap kata memiliki makna yang rumit bahkan makna sendiripun memiliki arti yang rumit dan dapat diuraikan. Di dalam film ini tidak terlalu banyak sisi bahasa yang disorot, namun salah satu kerumitan makna kata yang terlihat adalah saat dia hendak menjelaskan Kredit sepatu. Dia terbata-bata untuk menjelaskannya dan berakhir dengan kata Trust/ Kepercayaan.
Pengalihan Bahasa – Dalam menerjemahkan arti suatu kata, dibutuhkan padanan dalam bahasa lain, tetapi kadang hal itu tidak ada sebab dalam budaya bangsa lain, tidak ada yang seperti itu. Contohnya saja kata ‘Sungkan’, tidak ada kata padanannya dalam bahasa Inggris sebab orang Inggris tidak mengena budaya sungkan. Google Translator justru menerjemahkan kata sungkan menjadi ‘Hesitate’ yang berarti ragu-ragu ataupun bimbang. Dalam film ini, pengalihan bahasa, terlihat saat Kim mulai menawarkan sepatu, ia menyebutnya sebagai ‘Cicilan Sistem’ dalam bahasa yang dimengerti anak-anak. Bahkan subtitle yang cenderung salah seperti di menit 41 saat Kim mengunjungi rumah Ramos adalah bagian dari pengalihan bahasa yang sukar.
Komunikasi konteks tinggi VS Komunikasi konteks rendah – Komunikasi konteks rendah berarti pesan yang dipakai Verbal dan eksplisit, gaya bicaranya lugas dan terus terang. Sebaliknya, Komunikasi konteks tinggi menggunakan pesan Implisit, tidak langsung dan tidak terus terang. Pesan yang sebenarnya, bisa saja tersembunyi dalam non-verbal pembicara. Komunikasi konteks rendah terlihat saat pertama kali kakak Ramos marah pada Kim di lapangan. Ia mengatakan jangan mengambil uang anak-anak. Ia memaksudkan apa yang ia katakan. Sementara komunikasi konteks tinggi terlihat pada saat Kim mengatakan pada anak-anak bahwa mereka boleh membayar uang sepatu kapan saja dan hal itu tidak apa-apa baginya. Disana non-verbal dari Kim mengatakan lain sebab ia terlihat ingin menangis dan wajahnya sangat kecewa.

7.    Media massa yang dipakai dalam film ini antara lain adalah :
Radio (saat menit ke 140) - manfaat radio antara lain sebagai sumber hiburan, sebagai penyiaran berita (misalnya, tentang pertandingan yang sedang berlangsung – streaming)
Televisi (Saat menit ke 6) – manfaat TV disini sebagai sumber informasi bagi Kim dan menjadi informasinya yang pertama tentang Timor Leste.

8.    Elemen-elemen komunikasi terkait no 7 :
Radio
·      Komunikator – Orang-orang yang bekerja di radio termasuk komentator pertandingan.
·      Isi – Isi pesan adalah apa yang sedang terjadi di pertandingan.
·      Audience – Para pendengar radio.
·      Gangguan – Gangguan saluran yang terjadi adalah koresponden (Tuan Dojo) yang berada di lapangan, dikelilingi oleh keributan stadion sehingga suara yang disampaikan melalui ponsel pasti terpengaruh oleh suara ribut tersebut. Gangguan semantik yang terjadi adalah bahwa koresponden adalah orang Jepang yang berbicara kepada penyiar Timor Leste.
·      Gatekeeper – pihak pemilik radio, beserta staff dan penyiarnya. Mereka dapat memutuskan untuk menyampaikan informasi dari Tuan Dojo secara murni tanpa diubah kata-katanya, ataukan dengan mengubah kata-kata sesuai dengan bahasa mereka.
Televisi
·      Komunikator – Orang yang bekerja di TV
·      Isi – Berita tentang Timor Leste
·      Audience – Kim dan Yoo
·      Gangguan – Gangguan saluran dan gangguan semantik tidak ditemukan.
·      Gatekeeper – Editor yang mengedit berita Timor Leste.

9.    Komunikasi Kelompok dalam film “A Barefoot Dream” antara lain :
Kelompok Primer – Montavio dan Ramos, masing-masing memiliki kelompok Primer yaitu keluarga besar masing-masing dimana keduanya terikat secara emosional. Terbukti, ada dendam dan kemarahan yang disimpan keduanya terhadap satu sama lain berdasarkan perang yang terjadi diantara dua keluarga besar.
Kelompok Rujukan – Perang saudara yang terjadi adalah bahwa tiap anggota keluarga besar menjadikan keluarga besar mereka sebagai positive reference group yang mana membuat mereka berpegang pada pemikiran yang muncul di kelompok itu.


Tuesday, November 8, 2011

PR & LINGKUNGAN HIDUP. Tulisan Kecil Tentang Apa dan Bagaimana.



Konsep PR yang berkaitan dengan lingkungan hidup sebenarnya belum dirumuskan secara ilmiah sebagai ilmu yang dipelajari dalam bidang komunikasi. Konsep ini lebih dalam ada pada praktek PR seperti yang sekarang tengah gencar dilakukan berbagai perusahaan.
Joel Makower dalam bukunya : Strategies for the Green Economy: Opportunities and Challenges in the New World of Business menyebutkan bahwa PR yang ada saat ini tengah bertumbuh dalam menciptakan produk berbasis “Green” yang bertujuan membangun keberlanjutan sumber daya di muka bumi ini[1].
             Beattie Communications adalah salah satu perusahaan PR terkemuka di Inggris yang bekerja mewakili beberapa perusahaan dalam bidang relasi publik. Beattie Communications, saat ini, telah membentuk divisi tersendiri untuk menangani masalah-masalah perusahaan yang diwakili seperti Mark & Spencer yang bergerak di industri retail dan fashion dan juga Rolls-Royce yang memproduksi berbagai jenis kendaraan.
             Salah satu strategi yang digunakan oleh Beattie Communication seperti yang ditulis di www.beattiegroup.com adalah dengan memberi konsep pada 4R kepada Mark & Spencer (Recycle, Reuse, Repair and Reduce - daur ulang, penggunaan kembali, memperbaiki dan mengurangi penggunaan sumber daya) atau berusaha mengembangkan generasi baru mesin kendaraan yang ramah lingkungan seperti yang ditekankan pada Rolls-Royce.
             Konsep Green PR yang sangat memperhatikan lingkungan hidup juga tidak hanya dilakukan oleh sebagian besar perusahaan swasta yang menghasilkan produk tetapi juga dilakukan oleh instansi pemerintah terkait masalah lingkungan di teritori pemerintahannya. Dalam www.humasbatam.com disebutkan bahwa pemerintah Batam dalam usahanya memperbaiki lingkungan lautnya telah menerima sambutan baik dari Sulu – Sulawesi Marine Ecoregion (SSME) yang merupakan pertemuan antara tiga negara (Indonesia, Malaysia dan Filipina) yang kawasannya berlokasi di pusat segitiga karang (the coral triangle)[2].
             Batam, meskipun tidak berada di lokasi segitiga tersebut, tetapi usaha yang dilakukannya mendapat penghargaan tersendiri dari aliansi tiga negara tersebut. Peran Humas Batam sendiri disini terlihat jelas sebab setiap program pemerintah (baik yang terkait lingkungan hidup maupun tidak dijelaskan dengan sangat baik sehingga mampu menciptakan citra positif.
             Mengapa kemudian peran PR dibutuhkan dalam hal mengkomunikasikan konsep lingkungan hidup itu?
Disini ada fakta kecil yang akan menjawab hal itu. Beberapa perusahaan mempergunakan slogan “hijau” ternyata kurang memperhatikan konsep mereka. Misalnya saja Alfa-Midi, yang mempergunakan slogan Go Green, tetapi mencantumkan slogan tersebut pada kantong plastik yang notabene merupakan salah satu bahan polutan dengan sumbangsih paling besar di dunia.
Terlepas dari apakah Alfamidi mempergunakan PR-nya untuk merancang konsep “Hijau” tersebut, kita harus tahu bahwa peran PR sebagai pembentuk citra berkelanjutan dari suatu perusahaan, haruslah kemudian memperhatikan hal ini sebagai hal crusial tentang bagaimana perusahaan menampilkan citra yang tidak salah-kaprah tentang konsep lingkungan  hidup dan berdampak buruk.
Jika PR memberi konsep terkait lingkungan hidup yang tepat, maka perusahaan akan terlihat seperti membangun kesadaran dan mengajak masyarakat untuk turut serta memelihara pemanasan global. Bagi saya, itulah bagaimana PR dan lingkungan hidup harus berjalan.

Gambar diambil dari : pilmerpr.com and thegreenmarket.blogspot.com



[1] Http://www.melodiesinmarketing.com/2008/10/10/public-relations-and-green/
[2] Kawasan ini di huni oleh megabiodiversity antara lain 400 spesies alga laut, 16 spesies lamun, 5 dari 7 spesies penyu di dunia, 22 spesies mamalia laut dan semua potensi hayati yang bernilai ekonomi tinggi. Sekitar 45 juta jiwa manusia hidup di kawasan ini.